Bahan Alkitab
![]() |
Perumpamaan Talenta |
Matius 18:22-35
Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
Tetapi
ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang
seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar
hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu,
hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke
dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang
lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang
jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani
engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo,
sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat
demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni
saudaramu dengan segenap hatimu."
Matius 6:14-15
Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.
Yohanes 3:16
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia
telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Efesus 4:32
Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh
kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah
mengampuni kamu.
Kolose 3:13
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.
Imamat 4:35
Tetapi segala lemak
haruslah dipisahkannya, seperti juga lemak domba korban keselamatan dipisahkan,
lalu imam harus membakar semuanya itu di atas mezbah di atas segala korban
api-apian TUHAN. Dengan demikian imam
mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosa yang telah diperbuatnya,
sehingga ia menerima pengampunan.
A. Pendahuluan
Topik mengenai pengampunan merupakan ajaran penting dalam iman Kristen. Pengampunan erat kaitannya dengan ketulusan hati untuk menerima seseorang yang telah menyakiti kita. Dalam Kitab Taurat, manusia yang telah melakukan kejahatan terhadap sesama wajib menerima balasan atas perbuatan jahatnya. Yaitu hukumannya adalah gigi ganti gigi dan mata ganti mata. Artinya tiap orang akan menerima balasan yang setimpal dengan kejahatan yang diperbuatnya. Namun, Yesus mengajarkan tentang hukum kasih, yaitu kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada bagian lain dari Alkitab, Yesus memberi perintah untuk mengasihi musuh kita. Dengan mempelajari topik ini, kamu diingatkan kembali akan kewajibanmu sebagai orang Kristen untuk bersedia mengampuni sesama. Mengapa kita harus melakukannya? Karena Yesus Kristus telah lebih dahulu mengampuni segala dosa dan kejahatan kita. Yesus menjadi panutan bagi kita dalam hal mengampuni.
Memang
bukan perkara mudah ketika kita diminta untuk mengampuni sesama
apalagi jika perbuatannya amat menyakiti dan membekas dalam pikiran kita.
Mengampuni berarti membebaskan diri dari kebencian dan membiarkan
perasaan damai menguasai hati kita. Apakah kamu pernah menyakiti sesama lalu
kamu minta maaf pada orang tersebut? Bagaimana reaksinya? Atau, apakah teman
atau seseorang pernah menyakiti kamu, lalu dia minta maaf padamu? Bagaimana reaksi
kamu terhadap dua hal tersebut?
B. Makna Mengampuni
Apa arti mengampuni? Mengampuni artinya memaafkan seseorang dengan tulus hati, membebaskan seseorang dari beban rasa bersalah serta tidak mengungkit-ungkit lagi kesalahannya. Akan tetapi pengampunan itu tidak dengan sendirinya menghilangkan kewaspadaan diri, sehingga tidak menjadi korban untuk hal yang sama lagi. Dengan demikian, pengampunan yang diberikan itu menjadi sesuatu yang tepat dan efektif. Pengampunan yang tulus dan lahir dari kebaikan hati adalah pengampunan yang bersifat “memperbaiki” dan “merekatkan” kembali hubungan-hubungan yang pernah rusak. Allah mengampuni manusia melalui Yesus Kristus dan memperbaiki hubungan yang rusak antara manusia dengan Allah sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Lalu, menurut kalian, apa arti mengampuni? Mengapa manusia membutuhkan pengampunan Allah? Mengapa manusia diminta untuk mengampuni sesamanya?
Mengampuni artinya kita memaafkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya dan tidak mengungkit kesalahan itu lagi. Pada kenyataannya cukup sulit untuk melakukannya. Mengapa? Karena tiap orang memiliki sifat egois atau keakuan yang cenderung menempatkan dirinya sebagai orang yang paling benar, sedangkan orang lain selalu menjadi pihak yang salah. Mengapa demikian? Karena kita selalu tergoda untuk hanya melihat ke dalam diri kita saja, kita berpikir dari sudut diri sendiri, dan lupa untuk berpikir dari sudut orang lain.
Contohnya, jika terjadi masalah atau pertikaian dengan teman, kita cenderung menyalahkan teman tanpa mau bersusah payah mencari tahu mengapa dia marah pada kita. Padahal kemungkinan ada perbuatan kita yang tidak berkenan baginya. Banyak orang mengira mengampuni berarti melupakan masalah, merelakan kesalahan orang lain, membebaskan diri dari kebencian, dendam, dan marah. Sebenarnya mengampuni adalah perbuatan yang kita lakukan untuk diri kita sendiri tanpa melupakan orang yang menyakiti kita.
Dengan
mengampuni, kita melepaskan diri kita dari amarah dan dendam, bukan melepaskan
orang lain dari pikiran kita. Namun seberapa dalampun luka yang telah terjadi,
kita tidak akan sembuh dari luka itu sampai kita mengampuni kesalahan orang
yang bersangkutan. Pengampunan adalah
sebuah keputusan dari hati dan mengampuni tidaklah mengubah masa lalu,
melainkan mencerahkan masa depan. Artinya, pengampunan yang diberikan tidak
berarti menghapus masa lalu karena semua sudah terjadi. Dengan mengampuni,
seseorang dibebaskan dari beban kebencian, dan hati terasa damai. Dengan
begitu, langkah ke depan menjadi cerah.
“Cerita Memaafkan”
![]() |
Perjalanan Dua Sahabat |
Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir, “Hari ini, sahabat terbaikku menampar pipiku.”
Mereka terus berjalan sampai akhirnya menemukan sebuah oasis. Mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, tapi dia berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu, “Hari ini, sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku.”
Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir dan sekarang menuliskan ini di batu?” Sambil tersenyum, temannya menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin kencang yang datang berhembus dan menghapus tulisan itu. Dan bila sesuatu yang luar biasa baik terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar takkan pernah bisa hilang tertiup angin.”
Dalam hidup ini ada kalanya kita dan orang terdekat kita berada dalam situasi yang sulit, yang kadang menyebabkan kita mengatakan atau melakukan hal-hal yang menyakiti satu sama lain, juga terjadinya beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karena itu sebelum kita menyesal di kemudian hari, cobalah untuk saling memaafkan dan melupakan masa lalu (disadur dari: Renungan Harian, Cerita Iman dan Kisah Inspirasi Kristen. Gereja Isa Almasih Jemaat Jemur Sari Surabaya, diunduh tanggal 20 Desember 2020).
Setelah
membaca tulisan di atas, jelaskan pesan yang tersirat dari cerita ini berkaitan
dengan mengampuni sesama? Jika kalian
adalah orang yang ditampar, apakah tindakanmu?
C. Bagaimana Mengampuni?
Apakah mudah untuk melupakan rasa sakit hati kita? Dalam beberapa kasus sangat sulit untuk menyembuhkan luka hati dan rasa benci, tetapi perlu diingat bahwa pengampunan itu dapat berarti hal seperti berikut ini:
1. Membebaskan diri dari beban kebencian dan menggantinya dengan damai sejahtera. Coba kamu ambil air putih dan tuangkan kopi kental atau teh sedikit demi sedikit. Lama kelamaan air putih akan berubah menjadi kuning untuk teh dan hitam untuk kopi. Seperti itulah hatimu diubah dari putih menjadi hitam. Kamu tidak ingin hatimu pekat seperti kopi, bukan?
2. Tidak berarti kita bersedia terluka untuk kedua kalinya. Yusuf memastikan bahwa saudara-saudaranya telah berubah dan dia tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya. Jadi, kamu dapat mengampuni tetapi tidak menyerahkan dirimu untuk menjadi korban kemarahan ataupun tindakan negatif lainnya.
Kamu pernah dipermalukan oleh seseorang dan hal itu selalu
tersimpan di dalam ingatanmu. Makin kamu mengingatnya, makin dalam rasa benci. Coba
kamu berpikir, mengapa dia melakukan hal itu padamu? Kemudian, cobalah membuat
daftar penyebabnya. Misalnya, karena kamu pintar dan tekun belajar, atau karena
kamu cenderung tidak mau bergaul sehingga teman-teman memiliki pemahaman yang
salah tentang dirimu. Mungkin karena kecerobohanmu menyebarkan rahasia yang
dipercayakan padamu, atau karena kamu lalai mengundangnya ke pesta ulang
tahunmu, atau karena kamu punya teman baru. Jika diruntut, selalu ada hubungan
sebab akibat dalam rusaknya sebuah hubungan yang berakhir dengan pertengkaran, kebencian,
dan dendam. Jika kita bersikap objektif, kita akan temukan bahwa kedua belah
pihak turut menyebabkan rusaknya hubungan antar teman atau saudara.
D. Allah Mengampuni Manusia
Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, Allah telah berinisiatif untuk mengampuni serta menyelamatkan manusia. Allah mencari manusia dan menyelamatkan manusia. Manusia selalu mengingkari janji dengan Allah tetapi Allah tetap setia pada janji-Nya. Yesus adalah teladan dalam mengampuni.
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia
dan adil dan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala
kejahatan (I Yohanes 1:9). Untuk memperkuat kenyataan ini, Roma 5:8
mengatakan: ketika kita masih berdosa,
Kristus telah mati untuk kita. Allah mengambil inisiatif untuk mengampuni dan
menyelamatkan manusia, tetapi manusia harus dengan rendah hati mengakui
dosa-dosanya. Pengampunan Allah itu berlaku untuk selama-lamanya.
E. Bagaimana Allah Mengampuni
Manusia
Dari cerita-cerita yang ada dalam Perjanjian Lama, nampak hubungan manusia dengan Allah selalu diwarnai oleh dosa dan pemberontakan, tetapi Allah mencari, mengampuni, serta menyelamatkan manusia berdosa. Allah tidak pernah lelah mengampuni manusia. Banyak Nabi yang telah diutus untuk menyelamatkan umat-Nya, tetapi setiap kali setelah diampuni, manusia kembali jatuh ke dalam dosa. Akhirnya, Allah mengutus Yesus Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia.
Yesus harus menanggung kutuk dosa manusia, Ia berkorban bagi manusia. Mengampuni mengandung arti melepaskan dan membebaskan dari “utang” dosa dan Kristus datang untuk menebus utang dosa kita, Ia membayar lunas melalui pengorbanan-Nya di kayu Salib. Menurut Nitrik dan Boland (Dogmatika masa kini 1996), Kristus telah mempersembahkan korban yang sesungguhnya sebagai ganti manusia, bahkan Ia sendirilah korban itu. Di Golgotalah kata “korban” mendapat arti yang sesungguhnya. Kristus benar-benar telah mengorbankan diri-Nya sebagai ganti kita.
Melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib, hubungan manusia dengan Allah yang rusak oleh dosa dipulihkan kembali. Menurut Nitrik dan Boland, sebagaimana yang terjadi di bukit Moria ketika Abraham akan mengorbankan Ishak, tetapi Allah menyediakan “korban” sebagai ganti Ishak. Pada peristiwa Golgota, Allah menyediakan korban bagi penebusan manusia, namun korban itu bukan korban domba melainkan anak-Nya sendiri. Dengan demikian, manusia dimerdekakan dari dosa.
Menurut Rasul Paulus, justru dalam kemerdekaannya, manusia harus mempertanggung jawabkan melalui hidup yang benar. Menurut Paulus, janganlah mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa (Galatia 5:13).
Yesus digantung di kayu salib, Ia juga menderita penghinaan yang hebat dan puncak penderitaan di kayu salib merupakan gambaran tentang apa arti “berkorban”. Manusia yang dihukum di kayu salib adalah manusia yang “terkutuk” dan Yesus menjalani jalan yang seharusnya menjadi jalan manusia berdosa. Penderitaannya amat luar biasa, seluruh kutuk hukuman dosa ditanggung di atas bahu-Nya. Di kayu salib, menjelang ajal-Nya, ia mengatakan, “Sudah selesai.”. Menurut Nitrik dan Boland, perkataan itu berarti misi Yesus sudah selesai untuk mengambil alih tanggung jawab manusia, Ia memperdamaikan hubungan antara Allah dan manusia.
F.
Mengapa Allah Mengampuni Manusia?
1. Allah mengasihi manusia
Karena Allah mengasihi manusia, sebesar apapun kekecewaan-Nya terhadap manusia tidak mengurangi rasa cinta-Nya yang begitu dalam pada manusia. Allah mengasihi semua ciptaan-Nya dan Ia selalu memberi kesempatan untuk bertobat dan kembali pada-Nya. Sebenarnya, bukan hal yang mudah juga bagi manusia untuk selalu menjaga ketaatan hidup dalam iman. Mengapa? Karena begitu banyak godaan yang ada di sekitar kita.
Demikian pula manusia yang hidup di zaman Nuh, mereka tergoda oleh indahnya kehidupan yang penuh dengan pesta pora, kejahatan seksual, menindas dan menyakiti sesama, merampas hak orang lain, menyalahgunakan kekuasaan, dan semua itu membawa kenikmatan tersendiri bagi manusia. Inilah yang disebut oleh Rasul Paulus dengan “hidup oleh daging” dan bukan hidup oleh “Roh”, bahwa keinginan daging akan membawa manusia pada kebinasaan, sebaliknya keinginan Roh membawa pada keselamatan. Hidup oleh Roh artinya hidup yang dipimpin oleh Roh dan hidup menurut perintah-Nya.
2. Allah Maha Pengampun
Karena cinta-Nya itu, maka Allah adalah Allah yang Maha Pengampun. Ia bersedia mengampuni manusia yang bertobat dan berbalik pada-Nya. Ketika kepada Yesus ditanya berapa kali kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita? Maka jawab Yesus 70x7, artinya pengampunan itu tak terbatas, setiap kali kamu dapat mengampuni sesama seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus bahwa kita harus mengampuni orang lain seperti Kristus telah mengampuni kita.
3. Allah Penyelamat
Karena Allah adalah Allah penyelamat, Ia sudah berulang kali menyelamatkan manusia melalui para nabi yang diutus-Nya, namun tidak berhasil, akhirnya Ia rela “hadir” ke dunia dalam diri Yesus Kristus putra-Nya. Allah turun ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia. Manusia yang berdosa tidak akan mampu menyelamatkan sesamanya, karena itu Allah bertindak mendatangi manusia secara langsung untuk menyelamatkan manusia.
Yesus Kristus adalah Tuhan dan Manusia. Bagaimana mungkin? Ia lahir sebagai manusia, merasakan semua yang dapat dirasakan oleh manusia; Ia menjadi lapar, haus, sedih, dan juga bisa marah, Ia juga merasakan penderitaan seperti manusia lainnya, Ia juga mati seperti manusia lainnya. Namun, Ia tidak berdosa karena dikandung dari Roh Kudus, Ia adalah Tuhan yang bangkit dari antara orang mati dan naik ke surga, Ia mati menebus dosa manusia.
Tidak ada seorang manusia pun yang dapat melakukan tindakan seperti yang telah dilakukan oleh Yesus. Ia tidak berdosa, tapi harus menderita dan mati sama seperti orang berdosa, menurut Rasul Paulus, ia menanggung segala dosa kita.
Tuhan Allah mengampuni kita di dalam Kristus dengan
membatalkan utang kita kepadanya. Artinya, kita tidak lagi bertanggungjawab
atas dosa-dosa kita karena tanggung jawab itu telah diambil oleh Yesus Kristus.
Lalu,
apakah dengan demikian manusia bebas melakukan dosa? Tentu tidak! Justeru karena pengorbanan Yesus yang telah menebus dosa manusia, maka manusia harusnya melihat pengorbanan itu sebagai kekuatan untuk melawan dosa dan jangan berbuat dosa lagi!
G. Meneladani Yesus Kristus dalam Mengampuni
Dalam tradisi Perjanjian Lama, umat Israel harus mempersembahkan korban persembahan sebagai korban penghapus dosa dan itu diambil dari domba jantan yang tak bercela atau tidak ada cacatnya sama sekali. Utang dosa mereka dibayar melalui korban domba jantan. Allah menuntut persembahan binatang supaya umat manusia dapat memperoleh pengampunan bagi dosa-dosanya (Imamat 4:35; 5:10).
Persembahan menjadi tema penting dalam Perjanjian Lama. Misalnya, Allah memerintahkan Abraham untuk mempersembahkan Ishak anaknya. Abraham taat kepada Allah, namun ketika Abraham siap mempersembahkan Ishak, Allah campur tangan dan menyediakan seekor domba jantan untuk menggantikan Ishak (Kejadian 22:10-13).
Hutang dosa manusia dalam Perjanjian Lama dibayar melalui korban penghapus dosa berupa domba dan dalam Perjanjian Baru, Yesus disebut sebagai anak domba Allah yang menghapus dosa dunia karena Ia menjadi korban yang hidup menggantikan manusia.
Untuk menjadi penyelamat yang menyelamatkan manusia dari hukuman dosa, Juruselamat harus dapat menanggung penderitaan dan hukuman akibat dosa. Untuk memikul tugas itu, Juruselamat haruslah manusia sejati dan korban yang tak bercacat. Karena semua manusia telah cacat oleh dosa, maka Allah sendiri yang berperan, menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus. Pengorbanan Yesus di kayu salib membebaskan manusia dari hutang dosa sekaligus memerdekakan manusia dari kutuk dan maut. Kematian Yesus di kayu salib membuktikan kasih Allah yang sejati pada manusia.
Yesus Kristus telah menjadi teladan dalam mengampuni. Ia rela menderita, memikul segala beban dosa manusia, demi keselamatan manusia. Ia melakukannya dengan tulus dan ikhlas tanpa menuntut imbalan. Ia taat pada perintah Bapa, bahkan taat sampai mati di kayu salib. Yesus rela menanggung penderitaan yang luar biasa demi cinta-Nya pada umat manusia.
H. Makna Keselamatan Allah di dalam Yesus
Kristus
Perjanjian Baru memberikan pengertian yang cukup beragam mengenai keselamatan, misalnya keselamatan dalam pengertian hidup kekal, masuk dalam kerajaan Allah atau kerajaan Surga. Roma 6:23 mengatakan hukuman dosa adalah maut. Bicara tentang maut, pengalaman yang paling mengerikan adalah ketika Yesus merasakan di kayu salib, bagaimana Ia ditinggalkan oleh Allah, dan Ia pun berseru “Ya Allah Ku, Ya Allah Ku, mengapa Engkau tinggalkan daku?”
Mengacu
pada pengalaman ini, maka keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus bukan
sekadar pembebasan rohani maupun jasmani tetapi pembebasan manusia secara utuh
dari kutuk dosa dan dari maut. Maut tidak
hanya berarti “kematian” namun rusaknya hubungan manusia dengan Allah. Karena itu, keselamatan di dalam Yesus Kristus dengan sendirinya memperbarui hubungan antara manusia dengan Allah.
Melalui Yesus, kita disebut anak-anak Allah dan dapat memanggil Allah sebagai “Bapa” sebagaimana Yesus memanggil-Nya. Suatu karunia yang luar biasa.
Apa
dampaknya bagi orang beriman? Tiap orang beriman mengaku percaya kepada
keselamatan yang dikerjakan Allah di dalam Yesus Kristus. Dengan kepercayaan
itu, maka kita selalu menjaga hubungan kita dengan Allah melalui doa dan
membaca Alkitab secara teratur. Bukan hanya dengan Allah, tetapi manusia
beriman juga memperbaiki hubungan-hubungan yang rusak antar sesama manusia.
I. Penutup
Allah telah terlebih dahulu mengampuni kita, Dia mengirimkan Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita. Yesus adalah teladan bagi kita dalam mengampuni sesama. Cara kita menjawab pengampunan Tuhan adalah dengan mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita ataupun rela meminta pengampunan pada seseorang yang kita rugikan dan sakiti.
Banyak orang masih merasa sulit untuk mengampuni orang lain maupun meminta pengampunan atas kesalahannya karena mereka selalu berpikir kalau dirinya benar. Memang, jika mengandalkan kemampuan diri sendiri, sulit untuk mengampuni orang lain begitu saja. Tetapi orang beriman dapat mengandalkan karunia Roh Kudus untuk membantu menggerakkan hatinya dalam mengampuni orang lain.
Referensi:
Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekeri untuk SMP Kelas VII. Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Jakarta Pusat. 2021.
Alkitab
Elektronik 2.00 – Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia.
Gambar Perumpmaan
Talenta dari pinterest.ph
Gamba Perjalanan Dua Sahabat dari Buku PAK klas 7
Tidak ada komentar:
Posting Komentar